Malu!
Selamat pagi, siang, sore, malam, kapanpun Anda baca tulisan ini.
Saya menulis bukan untuk cari perhatian. Saya menulis saat ada yang membuat saya tertarik, atau membuat saya pusing tujuh keliling, tidak pernah hanya untuk mencari sensasi. Kalau cari sensasi gampanglah, saya bisa joget 40 hari 40 malam di depan Gedung Sate untuk menembus rekor joget terlama individu, tapi toh tidak saya lakukan.
Saya tertarik untuk membahas betapa terhormatnya negara saya ini ketika menjadi tuan rumah SEA Games kemarin. Ya, setelah nama negara kita “harum” oleh tren korupsi, sekarang ia jadi makin “semerbak”, kawan!
Pertama saya ingin bertanya, memangnya seberapa agung negara kita dibanding negara lain sampai kita merasa berhak menghina lagu kebangsaan orang? Ketika lagu kebangsaan Malaysia dikumandangkan, suporter Indonesia mengolok-oloknya. Di mana etika orang Indonesia, yang katanya, bangsa ramah? Entah apa yang akan dilakukan orang Indonesia jika Indonesia Raya yang diolok-olok. Mungkin sudah luluh lantak satu Jakarta!
Mungkin akan ada pembaca yang berkelit, “Malaysia itu musuh bebuyutan kita!” Okelah, terserah Anda soal itu. Tapi bagaimana Anda menjelaskan aksi “patriotik” suporter kita yang menyanyikan Indonesia Raya kala Majulah Singapura dikumandangkan? Premisnya: musuh bebuyutan = lagu kebangsaan direndahkan, berarti Singapura juga musuh bebuyutan kita? Ini saya yang bingung atau keadaannya memang absurd?
Kedua, insiden bendera Malaysia. Lupakan soal “saudara serumpun”, lupakan soal dinas pariwisata Malaysia pernah berusaha mengklaim beberapa budaya kita (tapi jangan terlalu sok juga deh, makna dari kata ‘BATIK’ saja banyak yang belum mengerti), lupakan malay versus indon, LUPAKAN. Sekarang mari kita pakai logika. Kalau merah putih yang diperlakukan seperti itu, bagaimana perasaan kita? Merah putih dibakar di negeri orang, dikencingi, diinjak-injak? Nasihat “perlakukan orang sebagaimana kau ingin diperlakukan”, apakah wejangan itu sudah ketinggalan zaman sehingga dilupakan?
Ketiga, yah terserah atlet pencak silat Indonesia yang satu itu, deh, dia mau lari 100 putaran, mau sembunyi di belakang pantat wasit, mau gigit pundak lawan (mungkin dia fans Jasper Cullen Twilight, kalau berserk langsung gigit sana gigit sini), sebagian besar rasa malu karna tampil pengecut di pertandingan itu pada akhirnya dia yang pikul. Tapi sudah tahu atlet kita yang tampil konyol, suporter Indonesia tetap saja melempar botol ke arena pertandingan. Ayolah, sebegitu bodohnyakah kita?
Dan jangan anggap ini semua masa lalu karena di koran dan media-media berita luar negeri nama Indonesia yang “harum mewangi” ini sudah menyebar. Ah, hanya bisa berharap jika suatu saat saya berkesempatan pergi ke luar negeri, tidak ada arang jelaga yang seketika memenuhi di wajah saya ketika saya bilang saya dari Indonesia.
Saya tidak bermaksud membenci bangsa sendiri, toh di tempat saya kuliah saya malah diwajibkan cinta budaya sendiri. Tapi kalau mental saudara sebangsa saya (oke tidak semuanya, tapi mirisnya, ribuan dari mereka tampak lupa bahwa mereka sedang membawa nama Indonesia walaupun hanya sebatas jadi suporter) seperti ini, muka saya harus disembunyikan ke mana lagi?
Sebenarnya, oh, sebenarnya… Tidak hanya di perhelatan internasional seperti ini orang sini tampil barbar. Sepak bola dalam negeri saja sering ricuh. Jika timnya kalah, para suporter langsung tumpah ke jalan, berkelahi, memecahkan kaca mobil, dan lain sebagainya. Jadi sepertinya masalah tidak terletak pada Malaysia, atau Singapur, atau Thailand.. tapi pada mental orang Indonesianya sendiri.
Haha. Malu.
-
fafirruilalloh reblogged this from pepperzee
-
sugaracid reblogged this from pepperzee
-
leiilucene reblogged this from pepperzee
-
nengmega liked this
-
heuheung reblogged this from pepperzee
-
pepperzee posted this
